
Shakespeare mungkin pernah berfilosofi “apalah arti sebuah nama “ yang kemudian seakan merasuk ke otak setiap anak SD di Indonesia (sebenarnya tidak sama sekali, bahkan saya tidak yakin mereka pernah mendengarnya), sehingga mereka memanggil teman mereka dengan sebutan bapak atau ibunya dan itu dianggapnya sebuah lelucon pengundang tawa. Haha. Sungguh sebuah candaan yang tidak lucu. Filosofi sang seniman asal Inggris itu sangat tidak relevan bila kita pandang dari kacamata realita karena perspektif yang tepat untuk kalimat tersebut adalah dunia teater, di mana setiap orang bisa menjadi siapa saja dengan watak apa saja. Seperti yang terjadi pada kisah seorang ABCD, american-born confused desh – yang bila diterjemahkan kurang lebih orang India kelahiran Amerika yang mengalami krisis identitas -, Gogol Ganguli.
Perlu diketahui, ‘Gogol’ adalah nama belakang seorang penulis revolusioner tersohor asal Rusia, Nikolai Gogol, yang semasa hidupnya dikenal sebagai pribadi yang tertutup, depresif, dan memiliki kecenderungan bunuh diri. Setelah sekian usaha bunuh dirinya gagal, sekelompok dokter kemudian memutuskan untuk mengikatnya dalam sebuah bak mandi berisi air hangat dengan tujuh ekor lintah menempel di tubuhnya. Esoknya, ia ditemukan sekarat dalam bak mandi dengan tubuh yang amat kurus sedemikian hingga mereka bisa menyentuh tulang punggung dari kulit perutnya. Tak lama kemudian, Nikolai meninggal dalam usianya yang ke- tahun. Merasa terganggu oleh kisah absurd dari nama tersebut, Gogol Ganguli lantas mengambil inisiatif untuk mengganti namanya meski ia tahu tindakannya itu sangat tidak disukai oleh Ashoke dan Ashima, ayah ibunya. Banyak peristiwa yang dialami oleh Gogol setelah ia mengganti namanya; setelah kepercayaan dirinya memulih. Mabuk, mengisap ganja, berkenalan dengan wanita, kehilangan keperjakaan, memergoki sebuah perselingkuhan, perceraian, dan berbagai hal lainnya yang mungkin tidak akan terjadi bila ia masih dipanggil dengan sebutan ‘Gogol’.
Jumpha Lahiri berhasil menyajikan sebuah cerita tentang benturan nilai budaya Amerika modern dan India konservatif tanpa memberi penilaian benar salah pada masing-masingnya. Setiap sisi kehidupan karakter-karakternya ia ungkap dengan perlahan dalam gaya bercerita yang sangat sederhana namun kaya akan detail yang kadang terlihat begitu rumit. Hal itulah yang seakan membangun ikatan emosional saya sebagai pembaca dengan Gogol juga tokoh-tokoh lainnya sebab nuansa naratif yang dibangun oleh Lahiri terasa begitu nyata.
Novel ini saya sarankan bagi kalian yang mungkin sedang bingung menentukan pilihannya sementara anggaran belanja buku bulan ini sangat pas-pasan dibarengi dengan do’a agar uang itu tidak terpakai untuk membeli baju di clothing ternama yang membuat kita merasa sangat stylish. Hahaha. Saya rasa untuk sebuah karya berlabel ‘New York Magazine Book of the Year’ ini, tidak perlu pikir panjang dalam membelinya. Beli saja, toh deretan clothing di jalan Trunojoyo itu masih akan selalu ada untuk kalian. =))

0 comment(s):
Post a Comment
komentar kalian sangat membantu untuk mengkoreksi kesalahan yang ada dalam tulisan sebelumnya. atau juga bisa jadi bahan kesombongan saya kalau-kalau komentarnya berisi pujian. hahaha.
thank you, anyway. :D